Detiknarasi Bontoramba – Video yang viral dari SDN 7 Bontoramba, Jeneponto, seolah menjadi cermin retak wajah pendidikan kita hari ini. Bukan soal metode belajar atau kualitas pengajaran, melainkan soal kekuasaan yang disalahgunakan dan pengabdian yang dikalahkan oleh hubungan darah.
Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk seorang guru honorer mengabdi. Empat tahun adalah bukti kesabaran, dedikasi, dan loyalitas terhadap dunia pendidikan yang sering kali tidak ramah pada mereka yang berada di lapisan paling bawah. Namun, semua itu seakan tidak berarti ketika “kursi” lebih diutamakan untuk keluarga sendiri, meski yang bersangkutan disebut sudah lama tidak aktif.
Yang lebih menyayat bukan hanya keputusan sepihak memindahkan mata pelajaran di luar kompetensi, melainkan cara kekuasaan itu dipertontonkan. Gebrakan meja dan kalimat bernada ancaman—“Saya bisa keluarkan kamu karena kamu masih honor”—menjadi bukti telanjang bahwa relasi kuasa telah mengalahkan akal sehat dan etika kepemimpinan.
Di titik inilah pendidikan kehilangan ruhnya. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi nilai keadilan dan keteladanan, justru berubah menjadi panggung feodalisme kecil. Jabatan diperlakukan layaknya hak milik, bukan amanah. Kekuasaan dipakai untuk menekan, bukan melindungi.
Guru honorer adalah tulang punggung yang sering dilupakan. Mereka bekerja dengan keterbatasan, gaji minim, dan status rentan, namun dituntut profesionalitas tinggi. Ironisnya, justru kerentanan itulah yang kerap dijadikan alat intimidasi. Bukan dibina, melainkan disingkirkan.
Jika praktik semacam ini dibiarkan, maka kita sedang mengajarkan pada anak-anak bahwa kedekatan lebih penting daripada kompetensi, bahwa suara keras lebih berharga daripada kebenaran, dan bahwa keadilan hanyalah slogan kosong di dinding kelas.
Kekuasaan, terlebih di dunia pendidikan, adalah amanah moral. Ia menuntut empati, kebijaksanaan, dan keberanian untuk adil—bukan keberanian untuk menindas. Sudah seharusnya pemerintah daerah dan instansi terkait turun tangan, bukan sekadar meredam viralitas, tetapi menegakkan keadilan.
Sebab ketika pengabdian dikalahkan oleh hubungan darah, yang tumbang bukan hanya seorang guru, melainkan martabat pendidikan itu sendiri.
















